Selasa, 31 Juli 2007

My Poem : Sayonara

Rating:★★
Category:Other

SAYONARA


Di persimpangan ku menatapmu
Hanya dirimu...
T'lah lama tiada kepastian
Kau dan aku bagai sepasang merpati
Tersesat di langit nan cerah

Selamat tinggal...
Terima kasih...
Karena dirimu kutemukan jalanku
Bersama dirimu kudapatkan bahagiaku
Meski hanya sekejap saja

Mentari yang terbit di bukit kenangan
Bukan lagi milik kita
Namun ia tetap bersinar, bukan?
Karena itu, mari hapus airmata kesedihan
Meski matahari terbenam dan purnama
tak lagi mengabadikan kebersamaan kita

Sang waktupun berlari
Namun, ku kan tetap menjadi diriku sendiri
Dan andai hati kita masih bertaut
Tatkala keraguan itu sirna
Maka, tunggulah...
Aku kan datang untuk menemuimu...

Rabu, 11 Juli 2007

CERPEN : My Fighting Boy!

Do you want me to continue this story just here, in the same blog? Or I must create a new blog for it? Which one is better according to you? (PS : Maybe the story is still far from the end... )

Just continue here.
 5

Continue in a new blog.
 0

EPISODE 1 :

I love Monday!

Nindi jadi semangat banget sejak Pak Hari, guru fisika yang masih muda & super handsome (ga kalah sama Hyde 'Laruku', hehe.. ), yang super baek dah mau ngegantiin Bu Nunik yang super judes, cerewet, & seabrek sifat2 yg ga disukai Nindi. Nindi jadi tergila-gila sama pelajaran fisika. Liat aja jalannya, semangat banget! Sambil senyum, ia & sobatnya, Karin, menuju pintu gerbang sekolah. Nindi pengeeen banget merebahkan diri di kamar untuk dengerin CD terbaru L'Arc en Ciel, sambil memandangi poster Hyde yang dipajang di dinding kamarnya.
Jadi, kebayang dong, gimana betenya Nindi... pas di jalan raya, ga jauh dari sekolah mereka, tampak puluhan pelajar berseragam putih abu2 saling lempar batu, malah ada yang bawa pentungan segala. Mobil, bus, & kendaraan bermotor banyak yang berbalik, takut kena lempar. Sedang pejalan kaki yang lain berkerumun, hanya melihat dari kejauhan...

Tawuran lagi!

Nindi & Karin jadi ga berani pulang. Mereka memilih nunggu sampai tawuran usai. Tapi bukannya bubar, mereka malah makin memanas! Nindi yang memang agak emosian, mana panas2 pula, jadi hilang kesabaran. Gadis itu keluar dari persembunyian & teriak kenceng ke arah tawuran. (Sementara Karin yang kaget cepet2 ngikutin Nindi dari belakang, "Nindi~~~!")

"Heiiii!!! Berhenti kaliaaaan!!!"

"Hei, Cewek!"seorang cowok peserta tawuran yg kebetulan ada di dekat Nindi, berkata ketus. Ada bekas jahitan yang masih terlihat jelas di dahinya. "Kamu dari SMA mana? Minggir, sana!"

"Aku nggak akan minggir sebelum kalian bubar!" teriak Nindi nggak kalah ngotot.

"Heh! Apaan tuh~! Udah~ pulang aja Non... atau~mau jadi pahlawan kesiangan yah~?"

"Mau jadi pahlawan mau nggak itu urusanku! Yang jelas, kalian mengganggu kepentingan umum, dasar idiot!"

"EH~! Dikasih hati malah ngelunjak. Untung cewek, kalo nggak..."

"Kalo nggak kenapa? Emang kamu berani?!"

"Aah... ! Jangan banyak omong! Minggir sana! Aku nggak suka bikin cewek nangis... !"
Cowok itu tiba2 mendorong Nindi. Untung Nindi pinter karate. Jadi, malah cowok itu yang jatuh. Cowok itu tampak kaget. Ia cepat2 bangun & tampak akan membalas, ketika tiba2 terdengar suara sirene...

"Polisi!!! Lariii...!!!" begitulah, para siswa yg tawuran langsung kocar-kacir. Tapi cowok tadi sempat berkata pada Nindi, "Awas kamu! Pasti aku balas!!"

"Ayo aja! Siapa takut...!?" wah, udah kayak iklan shampoo zaman jebot yg dulu sering nongol di TV, pikir Nindi, geli dengan ucapannya sendiri.
=============================================  TO BE CONTINUED... =====

Minggu, 08 Juli 2007

My Poem : Kenangan

Rating:★★
Category:Other

KENANGAN


Di taman impian yang mulai layu
Ku berdiri menentang langit
Dan di sana seolah terlihat
Bayangan diriku yang tak kukenal
Sedang memainkan kecapi untuk seseorang
Seseorang yang telah pergi

"Jangan pergi!" kuteriakkan pada angin
Entah terdengar olehnya entah tidak
Hanya bisa ku terus berteriak
Hingga malam turun...
Ada bintang jatuh di langit gelap untuk seseorang
Seseorang yang takkan pernah kembali

Entah tersampaikan padanya entah tidak
Kukirim saja kenangan ini ke tempat yang jauh
Ketika terdengar kembali sayup alunan kecapi
Mengingatkan pada ketakutan akan perpisahan abadi
Ingin rasanya kucabut dawai-dawai itu, walau dengan paksa
Agar terhapus putihnya warna kesedihan

Kelopak bunga berguguran di taman harapan
Mengiringi sendunya irama perpisahan
Menyatu dalam ingatan
Terkubur di sudut ingatan
Satu-satu airmatapun menetes di penghujung malam
Airmata terakhir sebelum kusongsong cahaya fajar