Minggu, 02 Desember 2007

Short Story : "Janji Edelweis"

JANJI EDELWEIS

Bulan Desember di Puncak Lawu. Aku duduk sendiri di depan api unggun, tanpamu. Kupandang langit malam yang tanpa bintang. Hampa, seperti kehampaan hatiku saat ini.
Aku mendesah sambil mengalihkan pandangan ke arah api unggun. Udara malam yang dingin seperti menuntunku untuk menggerakkan tangan dan merapatkan jaket biru yang kupakai. Sementara ketiga temanku : Yanu, Sandy, dan Della sudah terlelap di bawah selimut masing-masing.
Kesunyian menyergapku. Tak ada suara selain desiran angin dan derak api unggun. Hatikupun sunyi, sesunyi malam ini. Kesunyian yang sudah lama hadir, sejak kau tak ada lagi di sisiku.
“Bayu,” tanpa sadar kusebut namamu, lirih. Dulu, aku tak pernah duduk sendirian di depan api unggun seperti ini, karena selalu ada kau yang menemaniku.
Aku masih ingat perjumpaan pertama kita, Bayu. Saat itu, aku baru saja masuk ke klub pecinta alam yang kaudirikan bersama teman2mu. Sejak pertama melihatmu, aku sudah merasakan getar2 cinta di hatiku.
Bulan2 pertama aku menjadi anggota klub itu, hubungan kita cuma sebatas hubungan antara junior dan senior. Aku hanya berani memendam perasaanku dalam hati. Bahkan aku sudah memutuskan untuk melupakanmu saja.
Tapi tak kusangka, setelah setahun berlalu, tiba2 kau menyatakan perasaanmu, Bayu. Waktu itu, aku cuma bisa membisu dengan airmata berlinang. Aku benar2 bahagia. Rasanya aku tak percaya mendengarmu mengucapkan cinta kepadaku.
 Sejak itu, kita sering mendaki gunung bersama. Menaklukkan kesombongan gunung2 yang menjulang tinggi, bersama. Ada kalanya aku pergi tanpamu, atau sebaliknya. Tapi, aku masih ingat, kau selalu membawakanku setangkai edelweis setiap kali pulang dari pendakian.
Di tahun ketiga hubungan kita, kembali kau berpamitan padaku untuk mendaki bersama teman2mu, kali itu tanpa aku. Seperti biasa kau berjanji akan kembali untukku sambil membawa setangkai edelweis…
Aku masih ingat, saat itu bulan Desember seperti sekarang. Tidak seperti biasanya, entah kenapa saat itu aku seperti tidak merelakanmu pergi. Ketika hal itu kusampaikan padamu, kau hanya menanggapinya dengan senyum. Dan aku langsung paham apa artinya itu : keinginanmu tak mungkin bisa dicegah lagi. Sifatmu memang seperti namamu, Bayu. Kau seperti angin yang suka bertualang, bertiup ke manapun kau suka.
Selama kau pergi bersama rombonganmu, entah kenapa, hatiku terus saja merasa was-was. Aku hanya bisa berdoa, semoga kau baik2 saja.
Beberapa hari berlalu, namun kecemasan tidak juga hilang dari hatiku. Kemudian datanglah berita itu. Betapa hatiku bagai tersayat sembilu saat mendengarnya. Rombonganmu mengalami kecelakaan karena cuaca tiba2 memburuk. Aku takut sekali saat mendengar bahwa dalam rombonganmu ada yang meninggal dunia. Aku berharap itu bukan dirimu. Aku berharap kau akan kembali padaku dengan setangkai edelweis.

Aku mendesah. Ternyata harapan tinggal harapan. Keganasan alam di gunung itu telah merenggut nyawamu. Kugenggam setangkai edelweis yang baru saja kupetik. Kudekatkan bunga lambang keabadian itu ke dadaku sambil memejamkan mata. Biarlah cintaku padamu tetap abadi. Seabadi bunga edelweis…