Senin, 12 Juni 2006

My Poem : Mints

Rating:★★★
Category:Other

MINTS


Cinta…
Kadangkala aku ingin bertanya
Apakah dirimu sesungguhnya
Seperti apakah rasamu
Pedas seperti permen mint
Atau lembut seperti es krim cappuccino
Atau memang engkau
Memiliki banyak warna dan rasa
Seperti cinta dalam hatiku
Yang beraneka warna
Cinta yang menyenangkan
Cinta yang hangat
Cinta yang mendebarkan
Cinta yang menyakitkan
Cinta seorang mama
Cinta seorang kekasih
Dan kini kutunggu di sini
Cinta sejati yang bisa kumiliki
Bilakah kan datang
Menghampiriku di taman harapan…


Solo, 12th June, 2006
Heidy S.C©

My Poem : Kepada Kartini

Rating:★★★
Category:Other

KEPADA KARTINI


Tahukah Ibu, wanita kini?
Mereka bisa sekolah, Bu!
Bukan hanya sejajar dengan laki-laki
Bahkan bisa lebih tinggi lagi

Tahukah Ibu, wanita kini?
Mereka sudah sangat maju, Bu!
Ada yang jadi TNI atau Polisi
Sampai pejabat-pejabat tinggi negri ini

Tahukah Ibu, wanita kini?
Mereka bebas mengejar impian dan harapan
Tiada lagi beda hak wanita dan pria
Cita-citamu t’lah tercapai, Bu!

Tapi, Bu…
Andaikan Ibu bersama kami kini
Akankah kepiluan membuat airmatamu menitik
Melihat kaummu membuka apa yang harusnya ditutupi
Dan menjual murah apa yang harusnya dijunjung tinggi

Tahukah Ibu, wanita kini?
Mereka seperti burung yang lama terkurung,
lalu dibebaskan
Mereka terbang, Bu!
Tapi terlalu jauh, terlalu tinggi…


Solo, April 8th 2005
Heidy S.C©

My Poem : Benci

Rating:★★★
Category:Other

BENCI


Di hatiku ada sebuah lubang
lubang yang dalam
bernama kebencian
lubang yang bak selaksa halilintar
mengguntur dalam pekat gulita

Namun, tahukah engkau
di tepian lubang itu bertabur cinta
merah jambu warnanya
cinta yang meningkahi suara mengguntur
bergemerincing laksana denting-denting lonceng mungil

Mari dengarkan luapan benci hatiku
benci yang nisbi
benci yang banci
karena aku juga mencintai
apa yang aku benci

Aku benci pagi
sebab pagi adalah awal kesibukan hari
hari yang membuat penat diri
namun tahukah, aku juga cinta pagi
kar’na pagi berarti cicit burung bernyanyi
dan udara yang tanpa polusi

Aku benci siang
kar’na mataharinya membuat kulit terpanggang
dalam perjuangan yang membuat hati terbakar
tapi percayakah, aku pun cinta siang
sebab siang berarti terang
dan membuat hatiku jadi benderang

Aku benci malam
karena malam adalah keheningan
dan keheningan adalah kesepian
tapi sungguh, aku cinta malam
sebab malam berarti bintang
tempatku menaruh satu-satu harapan

Lalu… aku benci kau
sebab dirimu adalah arjuna
arjuna yang memiliki ribuan cinta
namun dengarlah, aku cinta kamu
kar’na arjuna tetaplah arjuna
arjunaku

Akhirnya… aku benci aku
kar’na aku kristal kaca yang rapuh
dipenuhi ego, marah, benci, dendam, takut, sendu
tapi aku yang paling tahu, aku cinta aku
sebab di hatiku ada cinta merah jambu

Aku adalah aku


Solo, February 17th-18th 2004
Heidy S.C

My Poem : Balada Sang Mentari

Rating:★★★
Category:Other

BALADA SANG MENTARI


Kala fajar merekah
Sang Surya terbit di cakrawala timur
Menebar sinarnya nan temaram
Menjangkau tiap sudut kegelapan
Memenuhi udara pagi sejuk segar

Dari singgasananya mentari bercah’ya
Terangi dunia dalam keterpanaan
Dia mengagumi anugrah Illahi
Keindahan alam nan tiada tara
Tanda kebesaran Tuhan semata

Detik demi detik bergulir
Hari merayap pelan menjangkau malam
Raja Siang dalam peraduannya
Menyimpan keinginan membara
‘Tuk kembali sinari cantiknya dunia


Solo, … (Kapan, ya? … Lupa! )
Heidy S.C©

My Poem : Panggilan Hati

Rating:★★★
Category:Other

PANGGILAN HATI


Aku mendengar suara dari tempat ini
Ya, aku mendengar panggilannya
Suara itu ingin aku datang
Suara itu ingin aku hadir

Tapi, haruskah aku datang?
Haruskah aku hadir?
Jika memang aku harus dating
Kenapa?
Tapi, andai dilarang datang pun
Aku akan bertanya
Kenapa aku tak boleh dating?

Ach… tapi suara it uterus memanggil-manggil
Terasa dekat, tapi jauh
Jauh, tapi dekat
Dan dia mulai merengek, merajuk
Dia benar-benar ingin aku datang?
Tapi… kenapa?

Kupendam saja pertanyaan itu
Sebab tiba-tiba kakiku melangkah maju
Lidahku kelu membisu
Dan hatiku mendadak membeku

Suara itu masih tetap mendayu
Dan tiba-tiba aku ingin bertanya,
“Siapakah kamu?”
Tapi tak ada jawab, tak ada sahut
Tapi setelah itu…
Sekali lagi aku mendengar panggilannya

Lalu, aku berlari
Ya, aku berlari menghampirinya
Aku terpana
Aku ingin dating
Aku ingin hadir
Tapi… kenapa?

Ach… ada sejuta “kenapa” yang ingin terlontar
Tapi kutahu takkan ada jawab
Takkan ada sahut
Hanya suara itu yang terus memanggil
Ingin aku datang
Ingin aku hadir


Solo, December 17th-18th 2003
Heidy S.C©

No comment, dech… 

My Poem : Satu Pertanyaan

Rating:★★★
Category:Other
SATU PERTANYAAN


Saat cinta bersemi
Hanya ada satu pertanyaaan
Cinta itu yang mekar di hati
Akankah kekal abadi?

Saat cemburu menghampiri
Hanya ada satu pertanyaaan
Cemburu itu yang datang menggoda
Apakah pertanda egois belaka?

Saat rindu terasa
Hanya ada satu pertanyaaan
Rindu itu yang menyesak dada
Apakah hanya emosi sesaat saja?

Saat hati terluka karena cinta
Hanya ada satu pertanyaan
Luka itu yang menoreh nurani
Akankah selamanya ada di sini?


Solo, September 16th 2002
Heidy S.C

My Poem : A Girl Says

Rating:★★★
Category:Other

A GIRL SAYS


A girl says…
She knows nothing
She doesn’t care at all
Open your eyes and see
Love is hurt
A girl says…
She doesn’t wanna be a stupid girl anymore
Hopes an impossible dream
For her, the dream has left far away
C’mon, Girl… open your eyes and see

A girl says…
She wanna be herself
Shares the sadness, she’s alone
Shares the joy, she’s still alone…


Solo, June 10th 2002
Heidy S.C©

Special for : Lonely Girl(s)

My Poem : Tembang Kesunyian

Rating:★★★
Category:Other

TEMBANG KESUNYIAN


Hitam, hening, dalam
Tak ada setitik pun cahaya
Aku terkurung dalam kegelapan
Sunyi, sepi, sendiri

Tiada tangan-tangan cinta
Hangat memeluk, mendekapku
Hati dan segenap jiwaku merintih
Aku rindu sentuhan kehangatan

Bilakah engkau kan datang, Cahaya?
Wahai Cinta dan Harapan, berilah ‘ku sinarmu
Cairkanlah kebekuan jiwaku
Terangilah s’tiap langkah-langkah kecilku

Tapi kini hanya sepi
Teman dalam hidup ini
Sunyi mendekapku sendiri
Dalam kegelapan nan perkasa-abadi

S’ribu cinta yang tak pernah kumiliki
S’juta asa yang tak kunjung bersemi
Oh, Dunia…
Kenapa aku dilahirkan ?!!

Aku ingin tertawa, tapi tak bisa
Pun tak dapat ‘ku menangis sedih
Kar’na tak ada bahu
Tempat ‘ku bersandar

Kadang jika kulihat hewan dan serangga
Begitu tent’ram dan damai hidupnya
Walau tak punya rasa, tak mengapa
‘Ku ingin seperti mereka

Ah… tapi apa guna meretas asa
Apa guna ‘ku berkeluh kesah
Hati itu yang tak pernah tersiram hawa kesejukan
Toh milikku juga

Ayah, Ibu, Adik, Kakak?
Hanyakah kata tanpa makna
Teman… sahabat… ?
Ah! Apa lagi itu? Apa?
Cinta… apa artinya semua?
Aku tak tahu, aku tak paham

Jiwaku t’lah terkurung dalam jurang yang terlalu dalam
Aku terpuruk
Hati dan tiap tetes darahku mati rasa
Aku tak bisa naik, tak bisa bangkit
Ulurkan tanganmu, wahai Cinta
Jamahlah aku, wahai Cahaya
Biarkan ‘ku menggapaimu
Tolong… !


Solo, May 4th 2002
Heidy S.C©

Note : ‘Tembang Kesunyian’, ‘tembang’ yang dibuat oleh Lonely Sagita dalam diriku
(Apa maksudnya… ? ^^;)
What? Don’t stare at me like that! Aku bukan ‘orang aneh’, kok!:p
Well, semua orang pernah ngerasa bad mood, dong? Waktu itu juga, aku lagi bete
berat and rasa-rasanya ga ada orang peduli sama aku…
Tapi, saat semua itu udah lewat, kita bakal tahu kalo sebenernya tuh, banyak
banget orang yang sayang and care sama kita, terutama keluarga dan sahabat.
Fu fu fu… kalo baca ulang puisi ini, aku jadi pengin ketawa. Tapi… yah, itulah
hidup! Dan puisi ini adalah saksi dari salah satu langkah dalam perjalanan
hidupku…

My Poem : Ibu Kita Bumi

Rating:★★★
Category:Other
IBU KITA BUMI


Ibu Kita Bumi bercerita
Dahulu manusia masih primitif
Berburu-meramu untuk bertahan hidup
Kadang menumpahkan darah teman
Namun bukan lantaran benci, hanya tuntutan naluri
Waktu itu Ibu Kita Bumi sedih
Tapi juga senang, karena alam masih hijau

Kini manusia tak primitif lagi
Mereka menjadi makhluk-makhluk cerdas
Kehidupan dipermudah oleh mesin-mesin modern
Ibu Kita Bumi bangga, tapi juga cemas
Anak-anak manusia tak lagi sayangi alam
Semena-mena mereka pada lingkungan
Bahkan tega tumpahkan darah teman
Hanya demi keserakahan

Ibu Kita Bumi mengeluh
Tubuhnya makin panas terbakar matahari
Selimut ozon menipis dirusak anak sendiri
Tanah, air, udara makin terpolusi
Hai, anak-anak manusia tak tahu diri
Dengarlah tangisan Ibu Kita Bumi


Solo, April 18th 2002
Heidy S.C©

Note : terinspirasi serial tokusatsu ‘Ultraman GAIA’ (Gaia = Bumi). Benarkah manusia
itu ‘pembawa kehancuran abadi’…

My Poem : Peri Kecilku

Rating:★★★
Category:Other

PERI KECILKU


Kau datang padaku, Peri Kecil
Ada impian dan harapan di bening matamu
Masa depan yang bahagia di cerah wajahmu
Kasih sayang di mungil tanganmu

Peri kecil dari negeri ajaib
Kau datang dengan riang gembira
Ingin melakukan semua yang kau bisa
Ciptakan kegembiraan dari tongkat bintangmu

Terbang berkelana bersama angin
Mencari siapa, kalau bertemu mau apa
Kalau saja kau izinkan
Beritahukanlah kepadaku

Janganlah engkau lupakan, Peri Kecilku
Ada impian dan harapan di tanganmu
Sebab engkau dianugrahi
Kekuatan indah nan menakjubkan


Solo, February 9th 2002
Heidy S.C©

Special for : ‘Peri-Peri Kecil’ se-Nusantara, keep smilling
Note : (buat para ortu)
Anak-anak mempunyai harapan dan impian tersendiri. Mereka mempunyai misteri
dalam dunia mereka sendiri yang sulit kita capai, sekalipun dalam mimpi.
Biarkanlah anak-anak itu bebas menemukan apa yang mereka cari, sebab di balik
kepolosan mereka tersimpan suatu harapan tentang masa depan…

My Poem : Melati

Rating:★★★
Category:Other

MELATI


Melati…
Putih bersih warnamu
S’merbak harum wangimu
Suci abadi tak bernoda

Melati…
Suci abadi tak bernoda
Melati putih pujaan hati
Lambang kasih nan sejati

Melati…
Lambang kasih nan sejati
Cah’ya kedamaian terhantarkan
Tersimpan di hati abadi


Solo, February 12th 2002
Heidy S.C©

My Poem : Simphoni Alam

Rating:★★★
Category:Other

SIMPHONI ALAM

Ku bersandar di batangmu yang kokoh
Wahai kau pohon kehidupan
Angin berhembus lewat sela-sela daunmu
Lembut, hilangkan duka dan rasa takut

Gemericik air sungai terdengar
Kutolehkan kepala ke samping
Kulihat air sungai yang jernih
Pantulkan cah’ya mentari keemasan

Kupandang angkasa raya
Langit biru cerah seluas samudra
Burung-burung terbang bebas
Cericitnya riang terdengar

Sekali lagi kucoba hayati
Simphoni alam merdu sempurna
Dengarlah suaranya
Pejamkanlah mata…


Solo, January 30th 2002
Heidy S.C©

Note : (pernah dimuat dalam Tabloid Fantasi No.545/Juni 2004, halaman 21)
Alam memang indah, tapi tak ada yang lebih menakutkan dari kemurkaan alam
(baca:Tuhan). Alam kadang terasa kurang bersahabat, tapi sesungguhnya
manusialah yang tak mau bersahabat dengan alam. Coba renungkan. Dengarlah
suaranya, pejamkanlah mata…


My Poem : Ratu Pelangi

Rating:★★★
Category:Other

RATU PELANGI


Bias-bias semu sinar mentari
Terpampang di kaki langit
Megah, anggun, angkuh
Bagaikan ratu angkasa

Merah, kuning, hijau
Terbalut sinar keemasan
Bermahkotakan awan
Mengundang rasa kagum insan

Bias pesona memudar
Saat Raja Surya kembali berkuasa
Masih kupandang lazuardi
Rindu kau datang lagi :
Ratu Pelangi


Solo, January 28th 2002
Heidy S.C ©

Note : Cuaca mendung dan sering turun hujan. Tapi setelah hujan berhenti mendungnya
tak mau pergi. Uuh… pelanginya jadi nggak kelihatan, dech! Padahal aku kan
pengin lihat…

My Poem : Dreams Come True

Rating:★★★
Category:Other

DREAMS COME TRUE


No doubt to see the dreams
Dreams of a child
Dreams of purity
Dreams of golden heart

What the little girl does
Not only to see the dreams
She tries and tries again to reach it
And now I see : the dreams come true


Solo, August 4th 2001
Heidy S.C ©

My Poem : Kunang-Kunang Di Tepi Danau

Rating:★★★
Category:Other

KUNANG-KUNANG DI TEPI DANAU


Laksana sinar surgawi
serangga-serangga cahaya menari
bagai lilin-lilin kecil
di tengah kegelapan malam

Rindu hati
rindu kekasih
terjelma cahaya kunang-kunang
membias dalam wajah telaga

Ku sendiri di sini
harapku kau hadir di sisi
namun hanya selimut malam
dingin memelukku

Kunang-kunang di tepi danau
tahukah kau
rindu hati terpendam
Kasih…


Solo, January 28th 2002
Heidy S.C©

Note : diilhami salah satu episode anime Samurai X yang bikin aku nangis

My Poem : Kabut

Rating:★★★
Category:Other

KABUT


Kabut putih
Sepotong tipis
Halangi pandangan di depan

Walaupun kabut putih
Hanya sepotong tipis
Mampu bimbangkan yang tak punya pegangan

Tapi kabut putih
Yang sepotong tipis
Akhirnya sirna seiring bangunnya Sang Bagaskara

Kabut putih
Sepotong tipis
Sejenak datang, sejenak hilang


Solo, May 17th 2001
Heidy S.C©

teruntuk : yang pandangannya tertutup ‘kabut’

My Poem : Tiga Parkit Kecil

Rating:★★★
Category:Other

TIGA PARKIT KECIL


Tiga parkit kecil
berwarna pelangi : merah, kuning, hijau
pun terbalut warna angkasa biru
dan semburat warna awan putih


Tiga parkit kecil
terkurung dalam sangkar emas
t’lah cukup kebutuhan jasmani
namun ke mana hendak lari jeritan hati

Tiga parkit kecil
dambakan kebebasan
iri rasa hati melihat elang terbang tinggi
dan pipit menari-nari

Tiga parkit kecil
hanya bisa bermimpi
dengan mata sendu pandangi langit biru
di manakah kebebasan itu


Solo, May 12th 2001
Heidy S.C©

Note : pernah dimuat di Tabloid Fantasi bulan November 2004

My Poem : Jika Sang Surya

Rating:★★★
Category:Other
JIKA SANG SURYA


Jika sang surya datang sebagai fajar
Terangi alam yang semula gulita
Akankah cah’yanya terangi jiwamu
Jiwa yang selama ini terpuruk kesepian

Jika sang surya barakan panasnya
Tepat di atas kepala manusia tak punya bayang-bayang
Akan membara juakah hatimu
Hati yang selama ini menyimpan luka

Jika sang surya t’lah penat bersinar
Langit senja lembayung warnanya
Kala itu mereka masih menunggu hatimu terbuka
Masihkah dendam itu ada

Jika sang surya t’lah bertukar candra
Malam dingin semakin beku
Sebeku itukah hatimu
Namun, mereka kan s’lalu menunggumu

Jika sang surya kembali merekah di ufuk timur
Hangat, cairkan kebekuan
Bilakah sinar itu hangatkan hatimu
Hingga senyumpun kembali hiasi hari-harimu


Solo, April 2001
Heidy S.C©

My Poem : Cinta

Rating:★★★
Category:Other
CINTA


Cinta…
tidak diukur dengan kaidah pancaindra
sebab cinta itu rasa
yang keindahannya bermuara dalam jiwa


Cinta tak bisa dipahami
sebab cinta bukan untuk dipelajari
sinta bersemi laksana bibit
yang tiba-tiba jatuh dari langit

Atau ibarat Khais dan Laila
cinta acapkali
menimbulkan kesengsaraan jasmani
tetapi selalu
melabuhkan kebahagiaan rohani

Cinta adalah pengorbanan
pengorbanan untuk yang dicintai
dan di situlah
letak kemuliaan cinta


Solo, 2000
Diadaptasi dari salah satu seri “30 Kisah Teladan”©

My Poem : Rumah Impian

Rating:★★★
Category:Other

RUMAH IMPIAN


Rumahku…
tempatku tinggal selama ini
di sini, di rumahku
mengapa tak pernah kutemukan kedamaian

Kedamaian…
jauh di lubuk hati kurindukan
namun…
kapankah kerinduan itu sirna
dan di mana kedamaian kan kudapatkan



Yang pasti bukan di sini
bukan di rumah ini
karena di rumah ini
ku tak pernah merasa memiliki
pun tak pernah kumerasa menyayangi
atau disayangi

Ah…
tapi, ku masih punya keyakinan
suatu hari pasti kutemukan
rumah tempatku melewati hari-hari
membagi duka dan tawa
bersama orang yang mencinta dan kucinta
suatu saat pasti kutemukan :
Rumah Impian

Solo, 2000
Heidy S.C©

My Poem : Dunia Impianku

Rating:★★★
Category:Other
DUNIA IMPIANKU


Sering kuimpikan sebuah dunia
damai, indah, dan penuh warna
di sana ada sebuah padang bunga
sungguh indah dan harum semerbak

Anak-anak kecil berlarian
penuh suka cita
menyambut hari-hari indah
menyambut masa depan cerah

Tapi, dunia itu hanyalah impian
dunia yang sekarang
dunia yang telah tercemar
penuh kekerasan
penuh kelicikan
penuh rekayasa

Dan akhirnya akupun tersadar
dunia yang damai
dunia yang indah
dunia yang penuh warna
hanyalah duniaku
yang ada dalam impian

Solo, 1999
Heidy S.C©

My Poem : Dalam Sepi

Rating:★★★
Category:Other
DALAM SEPI


Dalam sepi
kumenangis sendiri
meratapi segala duka dan pedih
tak seorang pun peduli

Dalam sepi
kutulis puisi
mencurahkan segala isi hati
di secarik kertas putih

Dalam sepi
aku sendirian
dalam sepi
aku kesepian

Solo, 1999
Heidy S.C©