Seventeensweet
sweetseventeeN
Hari itu, tanggal 1 Desember adalah hari yang spesial banget buat Heidi. Hari itu, genap sudah ia berusia 17 tahun. Ia telah menginjak masa remaja yang (mungkin) sudah benar-benar remaja. Siap lepas landas meninggalkan masa anak-anak menuju masa yang lebih dewasa.
Namun, segalanya terasa hambar karena hari itu tak semanis bayangannya. Pagi hari, sampai di sekolah, tak seorangpun menyambutnya dngan ucapan selamat. Baru setelah Anne, kawan sebangkunya, menjabat tangannya sambil mengucapkan ‘selamat ulangtahun’, beberapa teman lainpun ikut melakukan hal serupa. Itupun cuma sebatas kawan-kawan dekatnya: Rini, Shanty, Livia, Lina... selebihnya, tak ada. Memang sih, Heidi nggak pernah ‘woro-woro’ sama teman-teman sekelasnya bahwa hari itu ia ultah, yang ke-17, lagi! Bukan apa-apa, ia cuma sungkan atau malah mungkin malu karena nggak bisa mentraktir teman-temannya untuk merayakan hari bahagia itu. Atau hanya sekedar membagikan makanan ringan buat mereka, yah... sama seperti yang biasa mereka lakukan kalau lagi berulangtahun. Bukannya ia kelewat pelit, tapi duitnya itu! Uang sakunya sebulanpun nggak akan cukup buat sekedar beli wafer tango, misalnya, buat ke-38 teman sekelasnya. Payah!
Heidi memang bukan anak orang kaya. Ayahnya cuma pegawai negeri biasa, sedangkan ibunya tidak bekerja. Ia punya dua orang adik laki-laki, yang satu duduk di bangku SMP kelas 2 dan yang satu lagi masih kelas 3 SD. Sudah menjadi rahasia umum bahwa gaji pegawai negeri, apalagi yang golongan rendahan, cuma cukup untuk makan. Kalau untuk kebutuhan lain, termasuk biaya sekolah, tidak usah ditanya lagi pasti hasil berhutang. Karena itulah, Heidi tidak berani berharap terlalu banyak.
* * *
Pulang sekolah, Heidi langsung masuk ke kamar. Setelah ganti pakaian, ia langsung rebahan di dipannya yang persis di depan jendela, sambil menatap langit-langit kamarnya yang masih terbuat dari anyaman bambu alias ‘gedheg’. Beberapa bagian tampak bolong bekas gigitan tikus. Bagian itulah yang selalu bocor kalau hujan turun deras, apalagi disertai angin. Heidi terus diam dengan pikiran resah. Beberapa kali gadis itu menghela napas. Ia tidak habis pikir, kenapa cuma soal ulangtahun saja ia bisa begitu gelisah. Padahal, di tahun-tahun sebelumnya ia tidak pernah ambil pusing. Mau ada yang kasih selamat atau nggak, dia nggak begitu peduli. Apalagi soal kado. Masa bodo amat!
Kado. Ya, kado. Tak seperti tahun-tahun kemarin, tiba-tiba Heidi ingin ada yang memberinya kado tahun ini. Di keheningan kamarnya, ia mulai berkhayal. Kira-kira kalau ada yang memberinya kado, apa yang ia inginkan? Tiba-tiba telinganya menangkap alunan musik lirih dari rumah tetangga sebelah. Heidi tersenyum pahit. Ia suka musik, dan ia ingat betul kalau sejak SD ia sangat menginginkan sebuah walkman... (Yah~kalau sekarang mungkin walkman sudah nggak zaman-nya lagi, sudah tergantikan oleh mp3-player, misalnya). Tapi, sejak dulu keinginan itu selalu ia pendam hati. Ia sadar harga sebuah walkman atau mp3-player terlalu mahal buat ortunya, bisa mencapai seperempat bahkan sepertiga gaji yang diterima ayahnya sebulan (setelah kena potongan macam-macam). Ah... sekali lagi ia mendesah. Mungkin benda-benda seperti itu memang terlalu mewah buatnya. Kalaupun ada uang, tentu keluarganya juga akan lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lebih penting, ketimbang cuma untuk 'bersenang-senang'.
Angin bertiup lewat jendela kamar membawa udara lembab. Cuaca di luar sana memang sedang mendung. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Air akan tumpah ruah dari langit membasahi pertiwi. Airmata Heidipun sudah mulai menitik tepat ketika rintik gerimis pertama jatuh dari awan kelabu, meluncur bebas ke bumi, dan langsung hilang terserap begitu menyentuh pori-pori tanah. Namun ketika butiran-butiran air yang lain turun susul-menyusul dari angkasa, makin lama makin deras, tiba-tiba Heidi tersentak. Ia cepat-cepat menyeka airmatanya yang belum sempat meleleh ke pipi. ‘Apa-apaan sih!’ marahnya pada diri sendiri. ‘Gitu aja nangis, kayak anak kecil!’
Setelah mengeringkan airmata, sekali lagi Heidi memandang keluar jendela. Melihat air yang turun dari langit, lalu berlompatan sebentar ketika menabrak plesteran halaman rumahnya, membuat Heidi berpikir lebih jauh. Bukankah usia, kesehatan, keluarga yang bahagia, kecerdasan (kata orang Heidi itu cerdas), sudah merupakan suatu karunia dari Yang Maha Kuasa? Ia masih bisa makan setiap hari, masih bisa sekolah, masih bisa bicara dan bercanda dengan Ayah, Ibu, dan adik-adiknya. Bukankah itu semua adalah anugerah yang tak terkira, yang tak ternilai dengan uang?
Perlahan, ujung bibir gadis itu tertarik ke samping, membentuk seulas senyum. Senyum yang tulus, senyum yang penuh rasa syukur. Dan ketika ia beranjak meninggalkan kamar karena mendengar panggilan Ibu yang menyuruhnya segera makan, kerisauan hatinya tentang ultah yang tanpa perayaan dan kado itu telah hilang sama sekali.
Sore harinya setelah mandi, Heidi menggambar di ruang tamu (merangkap ruang keluarga) sambil menyetel siaran radio swasta favoritnya. Wajahnya yang segar sehabis mandi tampak begitu cerah. Sesekali ia bersenandung pelan menirukan lagu-lagu yang diputar stasiun radio kesayangannya itu.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Heidi berhenti menggambar. Ia mengangkat kepala dan memandang radio di atas meja sambil menajamkan pendengarannya. Nggak salah lagi, yang didengarnya dari kedua speaker radio itu memang suara Anne, kawan sebangkunya, yang menelpon ke stasiun radio untuk meminta lagu. Didengarnya Anne meminta lagu yang cukup lawas, ‘Immortality’, kepada penyiar.
‘Lagu ini Anne kirim buat Heidi yang lagi ultah,’ kata suara Anne. ‘Anne tahu, Heidi suka banget lagu ini. Met ultah ya...’
Sesaat kemudian suara Celine Dion yang khas sudah mengalun di ruang tamu itu. Dan entah untuk yang keberapa kali dalam hari itu, Heidi sekali lagi tersenyum bahagia.
“Makasih, An...,” bisiknya.
Yak~inilah cerpen yang ga pernah saya publikasikan, karena terlalu 'egois', hehehe... :p
BalasHapusSebenernya ni cerpen dah lamaaaaaaaaaaaaaa bgt, sampai2 banyak bagian2nya yg udah ketinggalan zaman. Misalnya soal walkman. Pada waktu itu kebetulan walkman lagi ngetren di lingkunganku & banyak yg jual, gitu... lagu Immortality-nya Celine Dion juga... waktu itu blm lawas2 amat (tp saya beneran suka bgt lagu ini, jd tetep bagian lagu yg direquest itu TIDAK diubah, diganti lagu yg lebih inn, misalnya)... tapi akhirnya yg di-post di sini dah ngalamin penyesuaian... dikit... Malah jadi aneh ga sih...??? :p
kayaknya true story yach ...
BalasHapussalam ... pa kabar nengz.
baek2 aja a'... ^_^
BalasHapuskak...cerita ttg kakak ya??
BalasHapusperasaanku sii...waktu bacanya...hehe
map ya lw ada menyinggung..n maap lw tebakannya salah..:)
iya~based on true story, tp hiperbolis, hehe...
BalasHapusaslinya mungkin ga 'separah' itu... :p
ga takut cerpen kk ni diplagiat ama orang? coz bisa diakses kan...
BalasHapushah~? biarin aja, ini kan cerita yg umum bgt... :p
BalasHapuskhusus yg ini, bikinnya agak "ngasal", kyk nulis diary gt, hehe... jd sjak awal ga da niat utk di-publish di media